Aku tidak akan
pernah melupakan saat itu. Malam minggu yang selalu aku lewati dengan
berkomunikasi denganmu, telah kau buat menjadi “malam tersuram” untuk yang
kesekian kalinya.
Setiap
bel istirahat berbunyi, aku selalu ingin langsung menemuimu. Setiap pulang
sekolah, aku selalu setia menunggumu pulang dan bertemu denganku. Setiap
pertemuan, tidak ingin ku sia-siakan. Karna aku takut. Aku takut aku akan
menyesal karna tidak bisa memanfaatkan waktu saat bersamamu dengan baik.
Hingga
malam itu tiba, kamu mengatakan bahwa kamu sudah memiliki kekasih. Betapa batin
ini sangat tersiksa. Betapa besarnya
perasaan ini padamu sampai aku tidak tau harus mengatakan apa.
“Dari kapan?” kuketik sms dengan
cepat dan langsung mengirimnya. “tanggal 21, bulan lalu” balasnya singkat tapi
penuh siksaan batin saat kubaca. “lalu, kau anggap apa aku selama ini? Tempatmu
untuk bermain-main, pelarianmu, ato pelampiasan nafsumu?” “tidak, buka begitu
Shinta. Aku tidak tahu bahwa kamu ingin hubungan yang serius. Dulu, saat aku
sedang serius, kau malah bercanda” “oh begitu? Balas dendam? J” “bukan begitu”
“baiklah. Aku minta maaf. Aku sayang kamu,Rehan”
Perdebatan
kecil yang singkat tapi mampu membuatku begitu merasa kecewa. Bahkan kau sama
sekali tidak meminta maaf padaku. Apakah itu dirimu yang sebenarnya? Aku tidak
bisa menutup mataku untuk beristirahat malam itu. Yang aku lakukan hanya
memikirkanmu. Bagaimana kamu bisa setega ini padaku, setelah apa yang sudah
kita lalui? Teman-teman kita mengira, kita adalah sepasang kekasih baru
disekolah yang sedang menjalin cinta dan akan berhubungan harmonis. Aku sangat
bahagia saat teman-temanku menyebut namamu didepanku. Begitu juga sebaliknya.
Tapi malam itu, aku tidak habis pikir. Pada sore hari, kita masih bisa bercanda
dan bermesraan di dunia sms. Tapi mengapa? Mengapa kau harus berpaling padanya
dan membuang aku begitu saja?
Saat
ini, hanya doa dan perhatian dari kejauhan yang bisa kulakukan untukmu. Aku
tidak tahu apakah disekolah nanti, saat mataku menemukanmu sedang berjalan
semakin dekat denganku, aku masih bisa menyapamu dan menahanmu sebentar untuk
melepas rindu sejenak? Aku takut kamu akan menganggapku adalah pemeran utama
untuk merusak hubunganmu. Tapi, aku juga takut untuk menahan rindu yang
kurasakan untukmu. Rindu ini seakan-akan tidak akan pernah terlampiaskan. Aku
menginginkanmu. Khususnya, cintamu. Iya, aku menginginkan itu. Sangat
menginginkan itu. Ntah siapa yang bersalah dalam kasus percintaan ini, tapi aku
tidak peduli. Siapapun yang salah, aku tetap akan menjaga perasaan ini untukmu
sampai kamu sadar bahwa sebenarnya kamulah pemilik hati ini. Inilah keinginan
dari keegoisanku.
Aku berharap besar bahwa kelak,
Tuhan akan menjodohkanmu denganku. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain untuk
aku dan kamu. Aku sudah memutuskan untuk tidak membencimu dan berpaling darimu,
untuk tidak menyesal atas apa yang sudah kuputuskan. Mengapa? Karna perasaanku
sudah terlalu besar padamu, bahkan sampai detik ini aku masih sangat
menyayangimu, mencintaimu. Meskipun kamu sedang menjalin hubungan dengan dia
yang mungkin terlihat lebih sempurna dimatamu dibandingkan aku. Aku juga sudah
memutuskan untuk tetap membiarkan perasaan ini tumbuh seiring dengan
berjalannya waktu dan menunggumu berpaling padaku, dan tidak akan pernah berpaling
kepada yang lain lagi. Aku berharap Tuhan mengkhendaki niat tulusku ini dan
akan menyatukan kita, suatu hari nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar