Minggu, 10 Februari 2013

Perasaanku yang terlalu besar


Aku tidak akan pernah melupakan saat itu. Malam minggu yang selalu aku lewati dengan berkomunikasi denganmu, telah kau buat menjadi “malam tersuram” untuk yang kesekian kalinya.

                Setiap bel istirahat berbunyi, aku selalu ingin langsung menemuimu. Setiap pulang sekolah, aku selalu setia menunggumu pulang dan bertemu denganku. Setiap pertemuan, tidak ingin ku sia-siakan. Karna aku takut. Aku takut aku akan menyesal karna tidak bisa memanfaatkan waktu saat bersamamu dengan baik.

                Hingga malam itu tiba, kamu mengatakan bahwa kamu sudah memiliki kekasih. Betapa batin ini sangat tersiksa. Betapa  besarnya perasaan ini padamu sampai aku tidak tau harus mengatakan apa.
“Dari kapan?” kuketik sms dengan cepat dan langsung mengirimnya. “tanggal 21, bulan lalu” balasnya singkat tapi penuh siksaan batin saat kubaca. “lalu, kau anggap apa aku selama ini? Tempatmu untuk bermain-main, pelarianmu, ato pelampiasan nafsumu?” “tidak, buka begitu Shinta. Aku tidak tahu bahwa kamu ingin hubungan yang serius. Dulu, saat aku sedang serius, kau malah bercanda” “oh begitu? Balas dendam? J” “bukan begitu” “baiklah. Aku minta maaf. Aku sayang kamu,Rehan”

               Perdebatan kecil yang singkat tapi mampu membuatku begitu merasa kecewa. Bahkan kau sama sekali tidak meminta maaf padaku. Apakah itu dirimu yang sebenarnya? Aku tidak bisa menutup mataku untuk beristirahat malam itu. Yang aku lakukan hanya memikirkanmu. Bagaimana kamu bisa setega ini padaku, setelah apa yang sudah kita lalui? Teman-teman kita mengira, kita adalah sepasang kekasih baru disekolah yang sedang menjalin cinta dan akan berhubungan harmonis. Aku sangat bahagia saat teman-temanku menyebut namamu didepanku. Begitu juga sebaliknya. Tapi malam itu, aku tidak habis pikir. Pada sore hari, kita masih bisa bercanda dan bermesraan di dunia sms. Tapi mengapa? Mengapa kau harus berpaling padanya dan membuang aku begitu saja?

                Saat ini, hanya doa dan perhatian dari kejauhan yang bisa kulakukan untukmu. Aku tidak tahu apakah disekolah nanti, saat mataku menemukanmu sedang berjalan semakin dekat denganku, aku masih bisa menyapamu dan menahanmu sebentar untuk melepas rindu sejenak? Aku takut kamu akan menganggapku adalah pemeran utama untuk merusak hubunganmu. Tapi, aku juga takut untuk menahan rindu yang kurasakan untukmu. Rindu ini seakan-akan tidak akan pernah terlampiaskan. Aku menginginkanmu. Khususnya, cintamu. Iya, aku menginginkan itu. Sangat menginginkan itu. Ntah siapa yang bersalah dalam kasus percintaan ini, tapi aku tidak peduli. Siapapun yang salah, aku tetap akan menjaga perasaan ini untukmu sampai kamu sadar bahwa sebenarnya kamulah pemilik hati ini. Inilah keinginan dari keegoisanku.

               Aku berharap besar bahwa kelak, Tuhan akan menjodohkanmu denganku. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain untuk aku dan kamu. Aku sudah memutuskan untuk tidak membencimu dan berpaling darimu, untuk tidak menyesal atas apa yang sudah kuputuskan. Mengapa? Karna perasaanku sudah terlalu besar padamu, bahkan sampai detik ini aku masih sangat menyayangimu, mencintaimu. Meskipun kamu sedang menjalin hubungan dengan dia yang mungkin terlihat lebih sempurna dimatamu dibandingkan aku. Aku juga sudah memutuskan untuk tetap membiarkan perasaan ini tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan menunggumu berpaling padaku, dan tidak akan pernah berpaling kepada yang lain lagi. Aku berharap Tuhan mengkhendaki niat tulusku ini dan akan menyatukan kita, suatu hari nanti.

Jumat, 04 Januari 2013

Memaafkan

Hal yang paling jitu untuk menangis adalah memikirkan orangtua dan semua orang yang kita sayangi. Pikirkan apa yang sudah diberikan oleh mereka. Terkadang kita marah, kesal, bahkan pernah berkata “aku benci sama …..” . Tapi bagi orang yang berakal sehat, dia akan memikirkan itu kembali. Apakah pantas dia seperti itu kepada mereka? Apakah mereka terlalu jahat/buruk dari pada kita sehingga harus kita benci? Seperti yang dikatakan didalam Alkitab (bagi orang Kristen) bahwa janganlah kita marah kepada seseorang sampai matahari terbenam. 

Saya sangat benci pada permasalahan yang menurut saya sepele tapi begitu sulit untuk dimaafkan. Nah kembali lagi kepada Pencipta. Tuhan saja bisa memaafkan kita setiap saat kita meminta ampun kepadaNya, mengapa kita tidak bisa? Bukankah kita harus serupa dengan Allah? Mungkin anda saat membaca blog saya ini, anda akan berpikir bahwa saya ini Munafik atau sok Suci. Tapi saya hanya menyampaikan sesuatu yang nyata. Memang sangatlah susah memaafkan orang yang sudah menyakiti kita, tapi pikirkanlah kembali. Apakah dengan begitu itu bisa membuat hati kita tenang, lega, bahkan gembira? Apakah itu menguntungkan bagi kita secara pribadi? Hanya pikirkan itu kembali dan mulailah bersikap lebih baik secara perlahan dan penuh dengan kepercayaan diri :)